Kembali lagi bersama saya, Satrio Adi Rukmono, dalam topik yang berhubungan dengan dunia sistem operasi, untuk kali ini Microsoft Windows. Setelah membaca topik ini Anda akan dapat mengubah tampilan sistem operasi yang satu ini (khususnya versi 2000/XP) menjadi tidak dikenali lagi. Huahahahahahaha…

Perubahan yang akan Anda lihat tidak sekedar mengganti visual style, meng-edit bootscreen, atau logon screen. Bahkan, saya tidak akan membahas mengenai ketiga hal tersebut di sini. Yang akan saya bahas di sini melingkupi shell alternatif untuk Windows. Apa itu shell? Sederhananya, shell adalah suatu program yang menyediakan antar muka untuk pengguna, dalam kasus ini khusus terhadap program yang menghubungkan pengguna dengan kernel sistem operasi. Hmm… Rasanya di antara pembaca masih ada yang bingung-bingung ga jelas. Langsung saja ke contohnya, yaitu explorer.exe di keluarga Windows NT. Program ini memberikan antarmuka berupa taskbar dan start menu, desktop, bahkan juga mencakup program manajemen file yang biasa dikenal dengan Windows Explorer. Itu contoh shell yang GUI (Graphical User Interface). Kalo yang CLI (Command Line Interface) contohnya cmd.exe di Windows atau COMMAND.COM di DOS atau bash di Linux dan sebagainya.

Ngomong-ngomong soal manajemen file, silakan unduh Zeus GFM atau baca dulu postingan saya mengenai Zeus GFM :D

Nah, inti dari topik ini adalah bahwa untuk bisa menjalankan Windows, tidak harus perlu yang namanya explorer.exe. Program tersebut hanya memberikan antarmuka dari kernel kepada pengguna, dan dapat digantikan dengan program lain yang memberikan fungsi yang sama. Program inilah yang disebut dengan shell alternatif. Biasanya pengguna advanced menggunakan shell alternatif karena mudah di-customize dan yang paling penting adalah tidak memakan resource komputer sebesar explorer.exe. Banyak terdapat shell alternatif untuk Windows 2000 dan XP tersebar di dunia, dan masing-masing tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri. Berikut saya akan membahas beberapa shell alternatif untuk Windows, khusus yang free dan/atau open source dan sudah pernah dicoba oleh saya pribadi.

  1. LiteStep, merupakan shell alternatif yang sangat populer. Tampilan dan fungsinya 100% bisa di-customize sesuai keinginan pengguna dengan adanya script dan plugin. Sayangnya, untuk menulis script tersebut dibutuhkan keahlian programming tingkat menengah ke atas dan akan memakan waktu cukup lama untuk menguasainya. Meskipun begitu, jika Anda bukanlah programmer mahir, Anda tidak perlu khawatir karena sudah banyak tersedia theme yang dapat diunduh dan digunakan pada LiteStep. Awalnya, LiteStep terinspirasi dari AfterStep yang juga terinspirasi dari NEXTSTEP. LiteStep kini sudah tidak dikembangkan secara aktif, namun banyak yang secara tidak resmi mengembangkan shell alternatif ini, yang mudah dikenali dari suffix -Step di belakang nama shell, seperti DarkStep.
  2. SharpEnviro, atau sebelumnya dikenal dengan nama SharpE, adalah shell yang dibangun menggunakan bahasa pemrograman Object Pascal dengan IDE Delphi. Tidak terlalu customizable, tetapi menyediakan antarmuka yang cukup menarik dan mudah digunakan.
  3. BBLean, merupakan hasil porting dari Blackbox Window Manager untuk antarmuka X Window bagi Linux. Cocok bagi Anda yang sudah pernah menggunakan Blackbox di Linux sebelumnya. Seperti LiteStep, BBLean mendukung adanya plugin. Kelebihan dan kekurangan BBLean kurang lebih sama dengan LiteStep.
  4. Geoshell. Sesuai dengan tagline-nya: “calm your desktop”. Antarmuka yang indah, cukup customizable, dan dukungan untuk plugin membuat Geoshell dapat menjadi kandidat shell ideal. Meng-customize Geoshell tidak sesulit LiteStep.
  5. Liteshell. Tidak ada hubungannya dengan LiteStep, meskipun menggunakan prefix Lite-. Liteshell, sesuai namanya, berukuran sangat kecil dan ringan, tidak mengkonsumsi resource yang besar. Sebagai bayarannya, shell yang satu ini tidak dapat di-customize. Sudah mencakup fungsi-fungsi dasar yang harus dimiliki sebuah shell, Liteshell cocok sekali untuk Anda yang tidak menyukai antarmuka yang berkelap-kelip dan memiliki komputer dengan spesifikasi rendah.
  6. ROS Explorer, atau ReactOS Explorer. Jelas, ini ada hubungannya dengan ReactOS (baca artikel saya mengenai ReactOS). Dengan nama file explorer.exe, shell yang satu ini merupakan shell default untuk sistem operasi ReactOS. Karena ReactOS mengejar kompatibilitas dan familiaritas dengan Windows XP, maka tidak heran apabila shell ini tampilannya tidak jauh berbeda dengan explorer.exe bawaan Windows XP. Sayangnya, sejak ReactOS berkembang cukup pesat, pembuat ROS Explorer tidak lagi merilis ROS Explorer sebagai individu, melainkan tergabung dengan rilis ReactOS.
  7. Shell favorit saya, yang masih saya gunakan hingga saat ini: EmergeDesktop. Meskipun 100% customizable, EmergeDesktop tidak memakan resource yang besar dan tidak membutuhkan kemampuan programming. Semua pengaturan tersedia secara grafis, memudahkan pengguna awam sekalipun. EmergeDesktop juga mendukung plugin. Bahkan, program apapun dapat dijadikan sebagai plugin untuk EmergeDesktop. Baik explorer.exe, shell lain, maupun program yang Anda buat sendiri dapat dijalankan berdampingan sebagai plugin EmergeDesktop. Meskipun saya rasa tidak ada orang yang dengan bodohnya menjalankan explorer.exe sebagai plugin EmergeDesktop. Benar-benar shell yang saya rekomendasikan, patut dicoba!

Bonus:

  1. Cairo shell. Kenapa bonus? Sebab shell alternatif yang memiliki sasaran Windows Vista ini merupakan shell paling ambisius yang pernah saya temui, tapi perkembangannya paling lambat. Hingga saat ini bahkan belum merilis versi alpha, dan bahkan milestone-nya pun ditunda-tunda terus. Tapi jika membaca isi situs resminya, terutama jika Anda telah membacanya sejak tahun lalu (ketika awal ide Cairo shell tercetus), shell yang satu ini menarik untuk diikuti.

Jika Anda membaca artikel di wikipedia mengenai shell alternatif, Anda akan melihat bahwa shell alternatif sudah ada bahkan sejak zaman Windows 3. Demikian juga, menurut pendapat saya pribadi shell alternatif akan terus bermunculan untuk versi-versi Windows selanjutnya, seperti Windows Vista atau bahkan Windows 7.

Demikian pembahasan singkat saya mengenai shell alternatif, semoga membuka mata Anda bahwa explorer.exe bukanlah sesuatu yang wajib untuk sistem operasi Windows Anda. Gunakan salah satu shell alternatif di atas, ganti program manajemen file Anda dengan Zeus GFM atau Total Commander atau FreeCommander atau apapun file manager favorit Anda, dan Windows Anda pun terbebas dari explorer.exe!

Catatan akhir: Anda bahkan dapat membuat shell Anda sendiri, dan ada kemungkinan saya akan membahas mengenai pembuatan shell Windows di blog ini. Keep updated!

Hidup ini sarat dengan pilihan. Dari yang sederhana, “besok pake baju yang biru atau yang hitam ya?” sampai yang dapat mempengaruhi masa depan secara besar-besaran, baik pribadi (”Hmm… Kuliah di ITB atau yang lain ya?”) maupun komunal (misalnya keputusan presiden).

Akhir-akhir ini tampaknya Yang Menciptakan Saya sedang melatih saya membuat keputusan. Tiba-tiba saja sejak akhir semester lalu, banyak sekali keputusan penting yang harus saya buat. Sebagian hanya menyangkut diri saya sendiri, sebagian menyangkut orang banyak.

Yang pertama, mahasiswa Teknik Informatika semester IV punya kesempatan untuk daftar jadi asisten lab. Gak akan saya jelasin semua lab satu per satu, cukup yang waktu itu menarik hati saya: lab Sister (SIStem TERsebar (atau TERdistribusi)) dan lab IRK (Ilmu dan Rekayasa Komputasi). Kedua lab ini pun tidak akan saya jelaskan secara detail, sebab jika Anda adalah mahasiswa Teknik Informatika tentunya mengenal kedua lab ini, sedangkan jika Anda bukan mahasiswa Teknik Informatika saya akan kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya pada Anda. Sebagai gambaran singkat saja, mata kuliah lab Sister antara lain Organisasi dan Arsitektur Komputer (yang telah diakuisisi oleh prodi sebelah), Sistem Operasi, Jaringan Komputer, dan Sistem Tersebar, sedangkan di lab IRK antara lain ada Matematika Diskrit (yang sekarang berubah menjadi Struktur Diskrit), Logika Informatika, Strategi Algoritmik/ma, Otomata dan Teori Bahasa Formal, dan Kriptografi.

Lab IRK pada waktu itu menarik minat saya untuk senang-senang. Sebagai mantan anak TOKI, saya senang dengan hal-hal yang menggelitik logika seperti di lab IRK. Namun, sebenarnya cita-cita saya di masa mendatang sangat berhubungan dengan lab SisTer, yaitu sistem operasi. Setelah lama berpikir dan berdiskusi dengan beberapa teman, akhirnya saya memutuskan bahwa di usia saya (yang pada saat itu masih 19 tahun) ini saya harus mulai merumuskan masa depan saya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mendaftar pada lab SisTer, bukan lab IRK yang, seperti sudah saya jelaskan tadi, menarik minat saya untuk senang-senang.

Dengan keputusan ini, saya menyadari bahwa ketika memasuki lab SisTer nanti,  saya perlu belajar lebih keras karena bidang-bidang di dalamnya relatif baru bagi saya, tidak seperti di lab IRK di mana saya telah mendapat dasar yang (cukup) kuat, thanks to Pelatnas TOKI. Dan benar saja, saya pun akhirnya diterima menjadi asisten lab SisTer bersama Dody, Fiqri dan Samuel Simon. Baru minggu pertama, sudah ditunjuk jadi pembicara perdana untuk knowledge sharing… Tapi bagus juga sih, memotivasi saya yang pemalas ini.

Kemudian selanjutnya saya membuat dua keputusan penting yang masih berhubungan dengan yang di atas: saya telah memutuskan untuk memprioritaskan lab SisTer di atas aktivitas saya di HMIF,  yang telah saya letakkan di atas Unit yang saya ikuti, Quizumba Capoeira. Selain itu, saya juga telah memutuskan bahwa tugas akhir saya akan mengambil topik sistem operasi, kemungkinan besar mengenai file system.

Tapi, karena postingan ini sudah cukup panjang (sudah bertekad untuk tidak menulis blog yang terlalu panjang agar tidak membosankan), maka mengenai kedua keputusan di atas, juga keputusan-keputusan lain, akan dibahas di postingan selanjutnya.

Saya tutup dengan tag line seperti biasa,

VISIT INDONESIA YEAR 2008!!!

P.S.: Siapa sih yang menggagas istilah “postingan” ? Istilah yang aneh…

screenshot ReactOS 0.3.3 shell

Sistem operasi apa yang Anda gunakan? Windows XP atau Vista keluaran Microsoft? Ubuntu, Fedora Core, atau salah satu dari ratusan distro Linux lainnya? MacOS X dari Apple? Kombinasi dari dua sistem operasi? Atau malah tiga atau lebih? Tak bisa dipungkiri, “jabatan” sistem operasi paling populer hingga saat ini masih dipegang oleh Windows XP. Kompatibilitas dengan berbagai macam perangkat keras (dibandingkan MacOS X yang resminya hanya dapat dijalankan pada perangkat keras buatan Apple), stabilitas yang lebih baik (dibandingkan versi sebelum Windows 2000 ataupun Windows Vista), serta kayanya variasi perangkat lunak untuk berbagai macam kebutuhan dan kemudahan membuat perangkat lunak baru (dibandingkan dengan Linux) menjadi andalan sistem operasi buatan Microsoft ini.

Namun, mahalnya lisensi untuk sistem operasi ini cukup menyulitkan, khususnya bagi warga negara berkembang seperti Indonesia ini. Akibatnya, pembajakan perangkat lunak terjadi di mana-mana. Praktisi teknologi informasi yang mulai menghargai HaKI akan lebih menyukai sistem operasi Linux yang lisensinya jauh lebih murah, bahkan tidak sedikit yang gratis. Namun, kebanyakan klien masih menggunakan keluarga sistem operasi Windows, sehingga tidak jarang para praktisi teknologi informasi ini terpaksa menggunakan keluarga sistem operasi Windows, yang juga tidak jarang merupakan produk bajakan. Lantas bagaimana? Tidak bisakah kita memiliki sistem operasi yang kompatibel dengan keluarga Windows, khususnya Windows XP, dengan stabilitas yang kurang lebih sama, legal, dan yang paling penting dalam kasus ini : murah? Mungkin tidak lama lagi kita akan mendapatkan jawabannya.

Tidak banyak yang tahu mengenai sistem operasi yang satu ini, bahkan dari kalangan praktisi teknologi informasi. Tujuan dibuatnya sistem operasi ini dapat menjawab semua persoalan di atas, bahkan lebih baik. React Operating System atau ReactOS tidak hanya akan kompatibel dengan Windows XP, tapi juga gratis dan bahkan bersifat open source! Proyek ReactOS ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1996. Diawali sebuah kelompok yang menamakan diri FreeWin95, mereka ingin membuat sistem operasi yang meniru Windows 95. Namun, pada akhirnya proyek ini hanya sebatas diskusi mengenai desain sistem, tanpa hasil. Akhirnya, pada akhir 1997 Jason Filby menjadi koordinator proyek ini dan memanggil kembali anggota-anggota FreeWin95. Proyek ini dibangkitkan kembali dengan tujuan membuat tiruan Windows NT yang teknologinya masih diimplementasikan pada Windows XP dan Vista. Filby juga menekankan pada hasil berupa source code daripada sekedar diskusi. Proyek ini kemudian diberi nama ReactOS, yang diambil dari to react, menandakan reaksi mereka terhadap monopoli pasar sistem operasi oleh Microsoft. Awalnya, proyek ini berjalan lambat, namun seiring berjalannya waktu, makin banyak orang yang mau berkontribusi sehingga perkembangan proyek semakin cepat. Sudah cukup banyak perangkat lunak untuk Windows yang dapat dijalankan tanpa masalah pada ReactOS. Sebagai contoh, untuk pemrograman, antara lain Delphi 7, Dev-C++, Dev-Pascal, Free Pascal Compiler, dan Microsoft Visual Studio 6.0 Professional telah berjalan dengan baik. Untuk office suite, OpenOffice.org, office suite open source terbesar, versi 2.02-nya telah sukses diuji pada ReactOS. Bahkan Microsoft Office 2000 juga telah berjalan dengan baik pada sistem operasi yang masih berada pada tahap alpha ini. Selain itu, masih banyak perangkat lunak lain yang kompatibel dengan ReactOS hingga tidak dapat disebutkan satu per satu.

Hingga tulisan ini dibuat, ReactOS sudah mencapai versi 0.3.6, yang masih merupakan tahap alpha. Artinya, sistem operasi ini belum dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari. Namun dengan sifatnya yang open source, diharapkan pengembangan ReactOS akan lebih cepat dan tidak memiliki bug sebanyak Windows XP. Rencananya, versi berikutnya, yaitu 0.3.7 akan dirilis bulan September 2008 mendatang. Versi 0.4 masih akan tetap berstatus alpha, sedangkan versi 0.5 akan mulai menapaki status beta yang sudah dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari. Tim ReactOS merencanakan versi 0.5 akan dirilis sebelum tahun 2008 berakhir. Setelah versi 0.5, perjalanan akan terus dilanjutkan hingga versi 1.0 yang oleh para pengembang ReactOS disebut sebagai versi Gold atau Production, yang merupakan rilis final dari ReactOS. Semoga saja versi ini dirilis sebelum sistem operasi Windows XP “karatan”.

Lagi-lagi, saya tutup dengan tag line yang tidak berhubungan dengan isi post,

VISIT INDONESIA YEAR 2008!!!